Dari Angkot Menuju Sudirman 47

APSI– Menjadi bagian dari sejarah sebuah organisasi besar seperti Himpunan Mahasiswa Islam dengan memuncaki struktur kepemimpinan merupakan catatan sebuah prestasi bagi seorang kader. Ya, salah satu kader tersebut adalah Hermawan yang pernah tercatat dalam sejarah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bandar Lampung sebagai Ketua Umum HMI Cabang Bandar Lampung. Untuk menelusuri profil Hermawan, reporter www.kahmilampung.or.id Noercholis Rifai melakukan wawancara mendalam dengannya di Graha Biru Pahoman Bandar Lampung, beberapa waktu lalu.

Sosok Hermawan
Hermawan lahir di Pardasuka pada tanggal 19 Februari 1984 dari Ayah bernama Bakarudin dan Ibunda bernama Hernawati. Saat usianya baru 6 bulan, keluarganya memutuskan untuk hijrah dari Pardasuka ke sebuah desa terpencil di Kecamatan Pematang Sawah, Kabupaten Tanggamus bernama Karang Bekhak. Desa itu berjarak sekitar 4 jam dari Ibukota Tanggamus, Kotaagung dengan menggunakan alat transportasi kapal kayu.

“Waktu itu saya masih bayi, kira-kira masih usia 6 bulan. Keluarga saya hijrah dari Pardasuka ke sebuah desa terpencil bernama Karang Bekhak. Cerita itu saya dapat dari kedua orang tua saya,” kata Hermawan.

Anak pertama dari tiga saudara ini menikmati masa kecilnya dengan bermain di laut, hutan dan kebun. Ia pun sempat merasakan sekolah di SD Inpres Karang Bekhak. Meski bersekolah di pelosok desa yang jauh dari segala fasilitas, banyak murid-muridnya bahkan bersekolah tanpa menggunakan seragam, tak menyurutkan semangat Hermawan dan teman-temannya untuk menimba ilmu. Cerita yang mirip kisah anak Laskar Pelangi, bahkan cerita Hermawan ini lebih miris lagi.

“Cerita waktu kecil saya itu lebih miris dari novel Laskar Pelangi. Baju yang kami pakai pun, jauh dari layak. Jarang yang punya seragam ketika itu,” kenangnya.

Meski tidak menamatkan SD di Karang Bekhak, namun kisahnya hidup di desa terpencil di kawasan pesisir Lampung itu tak lekang dari ingatannya. Ia dan keluarganya kemudian hijrah Ke Bandar Lampung. “Masa kecil itu masanya bermain dan masa awal merasakan sekolah. Yang sulit dilupa waktu SD itu saya sangat takut sekali dengan jarum suntik. Bahkan pernah ketika SD saya mendapatkan bantuan suntik cacar gratis. Saya dan beberapa teman, kabur dan sangking ketakutan itu kami rela menyelam di laut,” ingatnya sambil tertawa.

Sejak keluarganya hijrah ke Bandar Lampung, Hermawan kecil melanjutkan sekolah dasar di SDN 4 Sukarame. Kemudian setelah tamat SD, ia melanjutkan ke SMP Al-Azhar 3 Way Halim. Bersekolah di SMP Al-Azhar adalah keingnan sang Ayah yang memang sangat keras mendidik anaknya dalam hal Agama Islam.

“Ayah saya itu mendidik saya sangat keras jika sudah urusan agama Islam. Beliau itu punya prinsip meski beliau tidak tamat SD, tetapi anak-anaknya harus sekolah setinggi mungkin,” kata Hermawan.

Setelah tamat SMP, Hermawan melanjutkan ke SMAN 6 Bandar Lampung. Di SMA inilah, Hermawan tumbuh menjadi remaja yang tidak suka berorganisasi. Baginya ikut organisasi itu hanya menghabisi waktu saja dan merupakan pekerjaan yang sia-sia. Ia pun lebih suka kumpul-kumpul dan ikut festival-festival band dengan teman-temannya.

“Sejak SMP bahkan sampai SMA, saya tidak pernah ikut organisasi. Meski banyak organisasi di sekolah,.saya tidak tertarik sama sekali. Dipikiran saya dulu, ikut organisasi itu sia-sia cuma ngabisin waktu. Osis, baris-baris dan lain-lain, hak kepengen saya. Mending saya ikut ngeband dengan teman-teman dan ikut-ikut festival-festival band,” ujarnya.
Meski tidak pernah ikut berorganisasi di sekolah, akan tetapi Hermawan aktif sebagai anggota Remaja Islam Masjid (RISMA) di lingkugan temat tinggalnya. Baginya beraktivitas di RISMA itu lebih bermanfaat daripada mengikuti ekskul di sekolah.

Cerita Saat Masuk Kuliah
Hermawan tidak pernah bercita-cita dan berencana untuk berkuliah di Kampus IAIN Raden Intan Lampung. Sejak di SMA, ia berencana untuk berkuliah di Fakultas Hukum Unila. Sayangnya cita-citanya itu kandas karena ia tidak lolos SPMB. Waktu itu, Hermawan berpikir untuk kuliah di kampus swasta, namun pastilah biayanya mahal. Sedangkan adik-adiknya harus tetap bersekolah. Karena kondisi itu, ia akhirnya memutuskan untuk menunda kuliah.
Keputusan menunda kuliah itu ternyata tidak di restui oleh sang Ayah. Sang Ayah menginginkan agar Hermawan terus melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi. Ternyata sang Ayah sudah merencanakan untuk mendaftarkannya ke Kampus IAIN Raden Intan. Referensi kampus IAIN itu di dapatkan sang Ayah dari kerabatnya yang juga alumni Fakultas Dakwah IAIN.

“Waktu itu, saya disuruh Ayah saya untuk berpakaian rapi, memakai kemeja dan celana dasar. Kemudian saya tanya ke beliau, mau kemana yah? ayah saya menjawab, sudah, ngak usah banyak tanya, pokoknya ikut! Karena perintah orang tua itu, saya akhirnya manut. Saya pun akhinya tahu ternyata saya dibawa ke IAIN untuk mendaftar kuliah. Meski dalam hati saya tidak mau kuliah di IAIN, akan tetapi ini perintah yang mau tidak mau harus saya ikuti,” ingat Ketua Pengacara APSI itu.

Hermawan sempat berpikir bahwa ia akan menjadi guru agama bila kuliah di IAIN, tetapi ternyata ketika ia membaca buku panduan dan melihat bahwa ada Fakultas Syariah yang sama dengan fakultas hukum, akhirnya pikiran itu pun dibuangnya dan ia tiba-tiba semangat memilih fakultas Syariah.

“Saya itu daftar di gelombang terakhir, hari terakhir dan di jam terakhir. Saat saya diajak daftar sama Ayah saya itu, mahasiswa baru yang lain itu sudah Kulta (Kuliah Taaruf semacam Ospek, red). Waktu daftar itu, saya berfikir lulus dari IAIN ini saya bakal jadi guru Agama. Tetapi waktu saya baca buku panduan ternyata ada Fakultas Hukum Syariah dan akhirnya saya putuskan untuk mendaftar di Fakultas Syariah yang sesuai dengan cita-cita sebelumnya,” terangnya.

Menjadi Aktivis HMI
Pasca diterima di Faluktas Syariah Jurusan Ahwalul Siyasah, Hermawan mengikuti kuliah Taaruf (Kulta). Di hari pertama mengikuti Kulta itu, ia sudah terlambat. Keterlambatan tersebut dikarenakan Hermawan berpikir bahwa Kulta dimulai pukul 08.00 WIB, akan tetapi ternyata Kulta dimulai pukul 06.00 WIB.

Keterlambatannya itulah yang membuatnya mengenal dengan HMI. ia mengenal HMI dari Angkot yang ketika itu dinaiki oleh aktivis HMI yang bernama Najih Mustofa. Saat itu, Hermawan justru merasakan manfaat bertemu Najih Mustofa yang mengenalkan HMI karena keterlambatannya ternyata ditoleransi oleh panitia. Padahal, semua yang terlambat pasti dihukum berat.

“Waktu itu saya terlambat Kulta, saya pikir Kulta itu masuk jam 8 pagi, ternyata jam 6 pagi mahasiswa baru itu harus sudah sampai di kampus. Beruntung saya bertemu bang Najih Mustofa di Angkot dan mengajak saya untuk masuk HMI. Saya sempat berpikir kalau saya terlambat, pasti kena hukum dengan panitia. Tetapi karena saya datang bersamaan dengan bang Najih Mustofa, saya tidak dihukum oleh panitia dan dipersilahkan masuk ke dalam barisan,” ingat Hermawan.

Meski sudah diajak untuk masuk HMI dan terhindar dari hukuman, Hermawan masih berpikir bahwa organisasi itu tidak penting dan mengabaikan ajakan seniornya itu. Bahkan, prinsipnya itu bukan hanya berlaku untuk HMI saja, akan tetapi berlaku bagi semua organisasi lainnya. Meski begitu ia tetap menjalin hubungan baik dengan senior-senior di HMI, maupun organisasi lainnya.

Hermawan memang belum mau untuk bergabung di organisasi manapun. Ketika awal ia masuk sebagai mahasiwa baru di kampus IAIN, akan tetapi suatu ketika Ia dan beberapa temannya diajak ke suatu tempat yang dinamakan Istana Presiden dan ternyata di tempat itu sedang dilangsungkan Masa Perkenalan Calon Anggota (Maperca) HMI.

“Saya dulu diajak ke suatu tempat namanya Istana Presiden. Waktu itu Presiden mahasiswanya senior HMI namanya Amir Faisal Sanjaya. Ternyata di Istana Presiden itu sedang ada Maperca. Karena sudah terjebak, akhirnya saya pun ikut-ikut aja dan sejak saat itu saya jadi Anggota Muda HMI,” ingat Politisi Demokrat itu.

Setelah menjadi anggota muda, Hermawan banyak dillibatkan dalam kegiatan-kegiatan di Komisariat. Ia dipercaya beberapa senior untuk menggalang dana ketika akan melaksanakan Basic Training. Hal itulah yang membuatnya mulai tertarik dengan HMI dan memutuskan untuk mengikuti Basic Training pada semester kedua.
Pasca Basic Training, Hermawan merasakan perubahan begitu drastis. Mulai dari cara berpakaian sampai cara berpikir pun berubah. Dari awal tidak suka berorganisasi, berubah menjadi senang dengan aktivitas berorganisasi.

“Perubahan yang saya rasakan pasca LK 1 itu sangat banyak, dari berpakaian saja saya berubah. Kalo dulu pakaian ala-ala anak gaul pakai kaos, jeans, rambut mowhak berubah jadi pake celana dasar, kemeja dan rambut mulai dirapihkan. Dan pola pikir saya tentang organisasi itu dari tidak penting berubah seratus delapan puluh delapan derajat,” jelas Hermawan.

Perjalanan Menuju HMI Cabang Bandar Lampung
Pasca LK 1 Hermawan yang tadinya adalah orang yang hedon, berubah menjadi aktivis di berbagai organisasi baik di kampus maupun di HMI. Kendati demikian, saat itu Hermawan secara pribadi belum memiliki keinginan untuk berada di struktur kepemimpinan dalam organisasi apapun.

“Meski aktif di berbagai organisasi,
saya itu tidak punya orientasi untuk ada di struktur kepemimpinan dalam sebuah organisasi. Pernah waktu itu saya dicalonkan untuk jadi Dewan Legislatif di fakultas dan waktu itu saya tolak. Tetapi tiba-tiba foto saya sudah bertebaran di kampus untuk jadi calon Dewan Legislatif di fakultas dan saya akhirnya pun terpilih. Di kampus, saya jadi ketua Dewan Mahasiswa dan di komisariat saya diamanahkan jadi Ketua Bidang PA,” jelas Hermawan.

Ketertarikannya di dunia pengkaderan HMI membuat Hermawan melanjutkan ke jenjang training LK II HMI. Ia pun mengikuti LK II di HMI Cabang Semarang. Pasca LK II, Hermawan aktif sebagai anggota Badan Pengelola Latihan. Berbekal pengalaman menjadi instruktur dan fasilitator di momen Basic Training setiap komisariat di lingkungan HMI Cabang Bandar Lampung, menghantarkan Hermawan menjadi Wakil Sekretaris Umum Bidang PA mendampingi Okri Mawardi yang menjabat sebagai Ketua Bidang PA di era kepemimpinan Tamri Suhaimi.

Di tahun berikutnya, saat Yuli Effendi terpilih menjadi Ketua Umum HMI Cabang Bandar Lampung, Hermawan kembali diamanahkan menjadi Wasekum Bidang PA untuk kedua kalinya. Padahal, saat momen Konferensi Cabang, Hermawan hanya menghadiri pembukaannya saja dan tidak terlibat dalam proses pemenangan Yuli Effendi sebagai Ketua Umum dikarenakan saat itu ada kerabatnya yang menikah di Jawa Tengah. Amanah itu pun ia jalani dengan serius karena ia memang menyukai hal-hal yang berkaitan dengan pengkaderan di HMI.

Menjelang kepemimpinan Yuli Effendi berakhir, ketika itu HMI Cabang Bandar Lampung akan menggelar Latihan Kader II (Intermediate Training). Hermawan bersama Aziz Amriwan diutus ke Jakarta untuk mencari pemateri Nasional. Di Jakarta inilah Hermawan dan Aziz mulai berbincang-bincang soal regenerasi kepengurusan Cabang. Pada saat itupun, Hermawan belum memiliki hasrat atau pun pikiran untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Umum HMI Cabang. Hermawan bahkan menawarkan diri untuk menjadi bagian dari tim pemenangan bila Azis bersedia mencalonkan diri. Saat itu, Azis pun mengatakan bahwa ia tidak berminat untuk mencalonkan diri sebagai calon ketua umum.

Hari berjalan dan waktu Konferensi Cabang mulai dekat, Hermawan yang saat itu baru saja menyelesaikan studinya di IAIN dan mulai magang di kantor Advokat AAI miliki Faisal Khudori pun tak sengaja berucap ingin mencalonkan diri untuk jadi Ketua Umum HMI Cabang Bandar Lampung. Ucapan itupun terus ditanyakan oleh Faisal kepada Hermawan yang akhirnya pun membulatkan tekad Hermawan untuk mendeklarasikan diri sebagai Calon Ketua Umum HMI Cabang Bandar Lampung yang dilaksanakan di Graha Gading Bandar Lampung.

“Waktu menjelang Konferensi Cabang, saya sudah lulus kuliah dan sedang magang di Kantor advokat AAI milik bang Faisal Khudori, saat itu saya tidak sengaja berucap mau mencalonkan diri sebagai calon Ketua Umum HMI Cabang. Ternyata ucapan saya itu terus ditanyakan dengan bang Faisal sehingga akhirnya saya pun membulatkan tekad dan mendeklarasikan diri sebagai calon Ketum,” ingat Hermawan.

Konferensi cabang pun dibuka sebagai salah satu syarat menjadi ketua umum itu harus mendapat rekomendasi dari komisariat yang ada di lingkungan HMI Cabang Bandar Lampung. Saat itu Komisariat Syariah yang notabene adalah komisariat di mana Hermawan dilahirkan, malah tidak memberikan rekomendasi.

“Saya malah dapat rekomendasi dari Komisariat Dakwah dan Darmajaya. Meski begitu tekad saya tidak surut, meski tidak didukung oleh komisariat sendiri. Akhirnya saya buktikan, saya bisa mendapat rekomendasi dari komisariat-komisariat lainnya. Seingat saya ada 3 komisariat yang tidak memberikan rekomendasi kepada saya dan ketiganya itu komisariat yang berbasis hukum,” terangnya.

Konferensi pun selesai dan Hermawan terpilih menjadi Ketua Umum HMI Cabang Bandar Lampung. Saat menjelang pelantikan, berbagai dinamika masih menghantamnya sehingga banyak isu-isu yang sampai ke PB HMI yang menyatakan bahwa Hermawan terpilih secara ilegal. Akan tetapi saat itu Ketua Umum PB HMI Arip Musthopa tetap mengesahkan dirinya sebagai ketua umum terpilih. Terpilihnya Hermawan sebagai Ketua Umum HMI Cabang Bandar Lampung yang berkantor di Jalan Sudirman Nomor 47 itu, menjadi puncak cerita Hermawan yang mengenal HMI dari sebuah ketidaksengajaan, dari Angkot menuju Sudirman 47.

Halangan tidak berhenti sampai di situ saja, saat pelantikan beberapa kader HMI melakukan unjuk rasa menolak pelantikan tersebut. Akan tetapi pelantikan terus berjalan dan akhirnya Hermawan pun secara resmi memimpin HMI Cabang Bandar Lampung.

Menjelang akhir kepemimpinan Hermawan sebagai ketua HMI Cabang Bandar Lampung, dilakukan pembangunan Gedung HMI Cabang Bandar Lampung. Gedung lama pun dirobohkan sekretariat lama HMI Cabang Bandar Lampung. Dengan dirobohkannya gedung lama, otomatis HMI tidak punya tempat untuk melakukan berbagai aktivitas. Hal tersebut tidak membuat Hermawan sebagai ketua umum kehabisan akal untuk menjalankan akhir periode kepengurusan HMI Cabang saat itu. Rapat-rapat pengurus banyak dilakukannya di kafe-kafe bahkan terkadang rapat di kediamannya.

Diakhir kepengurusannya, Hermawan pun akhirnya mendapat amanah menjadi Pengurus PB HMI hasil kongres Depok dan sempat merasakan dinamika konflik dualisme kepemimpinan PB HMI.  Melanjutkan karier aktivisnya di Jakarta itu, terus mematangkan sosok Hermawan sehingga menjadi lebih dewasa.

Meninggalkan dunia aktivis kemahasiswaan, saat ini, Hermawan meniti banyak karier. Ia dikenal sebagai advokat Ketua Asosiasi Pengacara Syariah indonesia (APSI) Lampung, politisi Partai Demokrat Lampung, dan Pimpinan media online yang juga dipercaya sebagai ketua KWRI (Korps Wartawan Republik Indonesia) sebagai lahan pengabdiannya pasca ber-HMI. ****

Sumber : http://kahmilampung.or.id/

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *